Bintuni Smart Care, Membawa Layanan Kesehatan Lebih Dekat

banner 468x60
Bagikan berita ini

Views: 13

“Bintuni Smart Care dan Upaya Memangkas Jarak Berobat”

“Smart Care lebih terintegrasi dan lebih terarah,” kata Ade.

Menurut dia, konsep tersebut dijalankan melalui Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP). Berbeda dengan pola Posyandu lama yang lebih banyak berfokus pada ibu hamil dan balita, ILP melayani seluruh kelompok usia.

Mulai bayi baru lahir, anak-anak, remaja, orang dewasa hingga lanjut usia dapat memperoleh pemeriksaan kesehatan.

Setiap Posyandu ILP memiliki lima kader yang telah mendapatkan pelatihan dan sertifikasi. Mereka tidak hanya melakukan pemeriksaan awal, tetapi juga melakukan skrining kesehatan dan membantu pelayanan pengobatan.

Jika ditemukan warga yang mengalami gangguan kesehatan, kader dapat mengarahkan atau memberikan penanganan sesuai kewenangan pelayanan di tingkat tersebut.

Di wilayah kerja Puskesmas Bintuni, saat ini terdapat empat Posyandu ILP, yakni ILP Bina Desa, ILP Kampung Lama, ILP Kampung Nusantara, dan ILP Bank Rakyat.

Setiap bulan, kader mendatangi masyarakat untuk melakukan pemeriksaan secara rutin. Layanan tersebut mencakup pemeriksaan kolesterol, gula darah, asam urat, malaria dan HIV.

Pola pelayanan itu membuat Posyandu tidak lagi sekadar menjadi tempat warga membawa anak untuk ditimbang. Ia berubah menjadi pintu masuk pelayanan kesehatan dasar bagi seluruh anggota keluarga.

Bagi warga yang tinggal jauh dari fasilitas kesehatan, perubahan itu memiliki arti praktis. Mereka tidak perlu selalu menempuh perjalanan jauh hanya untuk memperoleh pemeriksaan awal.

“Manfaatnya lebih memudahkan masyarakat datang berobat karena tempatnya dekat dari tempat tinggal mereka dan bisa menghemat biaya transportasi,” ujar Ade.

Bintuni Smart Care juga mengubah cara petugas melihat masyarakat. Pelayanan tidak hanya menunggu warga datang, tetapi bergerak mendatangi mereka.

Para kader melakukan jemput bola dengan turun ke kampung-kampung untuk menemukan persoalan kesehatan lebih awal.

Pendekatan ini penting karena banyak penyakit tidak selalu menimbulkan keluhan pada tahap awal. Pemeriksaan gula darah, kolesterol, asam urat, malaria maupun HIV, misalnya, dapat membantu menemukan masalah kesehatan sebelum berkembang menjadi lebih berat.

Dengan demikian, inti Bintuni Smart Care bukan semata-mata menambah jenis pemeriksaan. Inovasi ini berupaya menggeser pelayanan dari pola menunggu orang sakit menjadi pelayanan yang lebih aktif menemukan risiko kesehatan di tengah masyarakat.

Ade berharap jumlah Posyandu ILP di wilayah kerja Puskesmas Bintuni terus bertambah. Empat ILP yang telah berjalan, menurut dia, belum cukup untuk menjangkau seluruh masyarakat.

“Harapannya ILP dapat terus bertambah, tidak hanya empat yang sudah ada saat ini,” katanya.

Puskesmas Bintuni, lanjut dia, siap menyiapkan kader untuk memperluas pelayanan sehingga masyarakat dapat memperoleh akses kesehatan yang lebih dekat dengan tempat tinggalnya.

Di tengah Pameran Inovasi Bintuni, Bintuni Smart Care menunjukkan bahwa inovasi pelayanan publik tidak selalu harus berbentuk teknologi yang rumit. Kadang, inovasi justru hadir ketika layanan yang sebelumnya jauh dibuat lebih dekat—dan ketika tenaga kesehatan memilih mendatangi warga sebelum warga datang karena sudah terlanjur sakit.

**(Tim/red/MA/inspirasipapua.id)**

About Post Author

banner 468x40

banner 468x40

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *